Ulasan Novel Bersejarah, Cantik Itu Luka

Ulasan Novel Bersejarah, Cantik Itu Luka

Ulasan Novel Bersejarah, Cantik Itu Luka – Rekomendasi buku novel bersejarah kali ini merupakan buku pertama yang dirilis oleh penulis ternama, Eka Kurniawan bertajuk Cantik Itu Luka. Menceritakan sejarah Indonesia dalam kemasan cerita fiksi yang tentunya seru dan menarik untuk diikuti.

Ulasan Novel Bersejarah, Cantik Itu Luka

Cerita bermula ketika di akhir masa kolonial seorang perempuan bernama Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur. Dewi Ayu merupakan seorang buah hati dari sepasang https://24thwest.com/slot-online/ saudara beda ibu, Henri dan Aneu Stamler. Kedua orang tuanya menitipkan Dewi Ayu dalam sebuah keranjang yang diletakkan di depan rumah kakek neneknya dan kemudian pergi ke Eropa.

Dikala Belanda kalah dari peperangan, banyak orang Belanda yang memilih pergi dari Indonesia menghindari bangsa Jepang tidak terkecuali keluarga Dewi Ayu. Mereka memilih pergi dengan kapal terakhir tetapi sayang kapal yang mereka tumpangi berpapasan dengan kapal milik Jepang, mereka malahan ditenggelamkan tanpa konfrontasi. Tetapi, tentu saja Dewi Ayu tak berada dalam kapal hal yang demikian, sedangkan sudah dipaksa pergi meninggalkan Halimunda oleh keluarganya, dia konsisten ngotot untuk berada.

Sang tokoh sentral merupakan Dewi Ayu, seorang pelacur berharga diri tinggi. Wanita keturunan Jawa-Belanda dengan kecantikan luar biasa yang membikin para pria rela menghalalkan seluruh metode untuk menggagahinya. Bergeser dari masa ke masa, cerita malahan beralih ke tiga buah hati perempuan Dewi Ayu yang tidak kalah jelitanya serta si bungsu yang buruk rupa, tetapi ironisnya justru dikasih nama Cantik.

Terlalu panjang untuk menyebutkan sinopsis novel ini, sebab banyak kehidupan yang disebutkan Eka Kurniawan disepanjang 496 halaman ini, tidak heran sinopsis di belakang cover buku malahan ditampilkan amat singkat. Semuanya memang berawal dari Dewi Ayu dan cerita seputar keluarganya, namun terus terangkai bertahun-tahun kemudian melintas berjenis-jenis masa dalam Republik ini, malah semenjak Republik ini belum benar-benar ada, semenjak Belanda dan Jepang masih merajai segala sumber kekuatan alam dan manusia terlebih di pulau jawa, sampai menjelang masa-masa kemerdekaan Indonesia, dan berlanjut hingga momen yang diketahui dengan nama G30S PKI. Eka Kurniawan merajut kisah yang dapat disebut sebagai salah satu novel dengan gaya amat klasik, tempo lambat, hampir tanpa sela yang membikin pembaca seperti sedang maraton tanpa kans mengambil nafas, metode penuturan yang terlihat berimbang dengan masa yang disebutkan, tetapi berbeda dengan novel klasik asal negara barat yang sering kali kubaca. Gaya klasik Eka Kurniawan tak ragu membuktikan gairah sex laki-laki yang timbul imbas mengamati seorang perempuan indah dengan tubuh molek, dia malah membuktikan sebuah masyarakat yang tampaknya “mesum” dengan gaya apa adanya, hingga membuat kita bertanya-tanya, apakah demikian gaya hidup situs judi slot terpercaya para leluhur kita?

Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia

Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia

Seperti ucapan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, Jasmerah, jangan pernah melupakan sejarah. Karena sejarah memang tidak dapat dirubah, namun kita dapat belajar dari masa lalu, lalu kemudian dapat melanjutkan perjuangan untuk di masa depan.

Untuk mempelajari sejarah ini dapat kita lakukan di mana saja, terlebih karena adanya internet agen judi online yang mudah di akses saat ini, informasi apapun yang kita inginkan lebih mudah terjangkau. Namun, harus kita ingat bahwa buku adalah gudang informasi terbaik sejak dahulu sampai saat ini. Ada banyak sekali buku-buku berkualitas yang dapat kamu baca untuk menambah pemahaman kamu akan sejarah Indonesia dan perjuangan bangsa Indonesia dibalik melawan penjajah.

Salah satu alternatif untuk belajar sejarah adalah dengan membaca novel sejarah Indonesia. Karena buku non-fiksi ini mengemas sejarah Indonesia dengan bahasa yang lebih ringan dan alur yang lebih menarik untuk diikuti sehingga pembaca dapat lebih merasakan sejarah yang diceritakan di dalam buku tersebut.

Penasaran kira-kira apa saja novel Indonesia yang menceritakan tentang sejarah Indonesia baik berupa tokoh maupun peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi? Berikut rekomendasi novel sejarah yang sudah kami rangkum.

Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia

1. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer

Nama Pramoedya Ananta Toer sudah pasti telah dikenal oleh banyak penggemar buku non-fiksi, karena karya-karya Pramoedya banyak berisikan sejarah dengan riset yang deetail dan juga penggambaran dalam novel yang komprehensif. Hingga tidak heran jika Pramoedya disebut-sebut sebagai penulis novel sejarah terbaik yang ada di Indonesia.

Tetralogi Buru adalah karya Pramoedya yang paling terkenal, novel-novel ini ditulis selama masa pengasingannya di pulau Buru. Tetralogi Buru yang berisikan “Bumi Manusia” (1980; 1981), “Anak Semua Bangsa” (1981), “Jejak Langkah” (1985), dan “Rumah Kaca” (1988), mengungkapkan sejarah keterbentukan rasa nasionalisme pada awal masa kebangkitan nasional.

2. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan

Selanjutnya adalah novel pertama yang dibuat oleh penulis novel kenamaan Eka Kurniawan, yang berjudul Cantik Itu Luka. Novel yang berlatar belakang waktu saat Indonesia bahkan belum merdeka ini menceritakan kisah Dewi Ayu dan ke-empat anaknya.

Secara singkat, pada saat Belanda mengalami kekalahan perang, Ayu Dewi yang merupakan gadis cantik keturunan belanda ini dipaksa menjadi PSK oleh tentara jepang. Eka Kurniawan dengan manis mengemas kisah nasib anak-anak manusia dalam gelombang sejarah manusia ini, juga kental dengan beberapa legenda di Indonesia yang sudah ada sejak dahulu kala. Ia juga dengan gamblang menuliskan ke-absurditas kecantikan yang ada di wajah perempuan.

3. Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori

Buku sejarah Indonesia ini merupakan novel dengan tema persahabatan, keluarga, dan cinta para tokoh-tokoh yang turut aktif dalam demo di tahun 1998. Diceritakan kisah pilu aktivis-aktivis 1998 yang sempat merasakan keributan di Indonesia. Novel ini memiliki dua Point Of View, sehingga membuat pembaca tidak bosan dan bingung dalam membacanya.

Berikut adalah beberapa rekomendasi buku novel sejarah Indonesia, mana-kah karya favorite kalian untuk belajar sejarah Indonesia?

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

Artikel ini tentang sebuah novel yang memiliki beberapa tema yang sering terlihat dalam jenis sastra Indonesia lainnya. Subyeknya adalah kehidupan Nur Indayah, yang memulai hari-harinya di pasar di kota kelahirannya. Di usia paruh baya, Nur Indayah pindah ke bagian lain Jawa sendirian untuk menjalani Situs judi slot bet kecil hari-harinya dan meninggal di sana. Novel ini memiliki banyak kesejajaran dengan novel-novel Indonesia lainnya maupun sastra non-Indonesia lainnya. Ini terutama mengeksplorasi konsep identitas diri melalui berbagai orang dan perjalanan mereka sepanjang hidup mereka. Artikel ini berfokus pada tema identitas diri yang dirasa kurang oleh banyak orang di Indonesia dan bagaimana orang dapat menemukan dan mencapainya melalui berbagai peristiwa dalam hidup mereka.

Buku Bersejarah

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

“Cerita Buku Bersejarah” adalah sebuah novel yang ditulis oleh penulis Indonesia Rais Suharto (1933–2007). Bercerita tentang Nur Indayah, yang hijrah dari Aceh ke Jawa dan akhirnya ke Semarang, di seberang Jawa. Penulisnya, Rais Suharto, juga menulis novel lain tentang kehidupan Nur Indayah seperti “Cerita Buku Bersejarah: Semarang”.

Kehidupan Nur Indayah berkisar pada kehidupan pasar tradisional. Di chapter pembuka, dia terlihat berjualan di sebuah pasar di Aceh dan dia bisa menjual semua barang dagangannya. Suaminya datang untuk membeli barang dagangannya di pasar dan dia menjadi istrinya setelah dia membayar harganya. Ketika dia bertanya apa yang terjadi dengan semua uang yang dia berikan, Nur Indayah menjawab, “Saya pasti senang dengan uang itu.”

Rais Suharto merasa bahwa sudut pandang Nur Indayah sangat https://slotonline.sg-host.com/ menarik dan penting bagi pembaca Indonesia untuk memahami Nur Indayah sebagai orang normal seperti mereka. Dia terlihat sebagai wanita normal dan bukan sebagai janda atau bahkan sebagai wanita tua di usia tua. Hidupnya berputar di sekitar pasar tradisional dan fokus utama hidupnya adalah menjual barang dagangannya.

Suami Nur Indayah, Salim, pindah ke Semarang saat Nur Indayah pindah. Dia mentransfer uang istrinya dari Aceh ke Semarang dan bertanya apa yang terjadi dengan uang yang dia berikan padanya. Dia menginginkan uang itu karena dia telah meletakkannya di salah satu sepatunya dan dia menginginkannya kembali. Nur Indayah menjawab, “Hanya itu sisa uangku.

Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Kongres Sarikat Islam – Kurang lebih dalam sepekan , mulai dari tanggal 17 hingga 24 Juni 1916 , terjadi sebuah pertemuan atau yang kita kenal dengan Kongres Sarikat Islam di alun alun kota Bandung.

Panitia Kongres bertekad membuat waktu itu juga menjadi pekan untuk berpesta. Gubuk-gubuk dibangun berderet dalam garis yang rapih, dimana dipamerkan dan dijual macam-macam barang kerajinan rakyat. Tak ketinggalan juga sebuah buffet untuk menjual berbagai makanan dan minuman untuk para pengunjung kala itu. Hasil bersih dari usaha itu akan disumbangkan ke Sekolah Agama Islam yang belum berselang lama didirikan.

Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Para pengunjung yang terdiri dari segala lapisan masyarakat , baik lapisan atas ataupun bawah ramai membanjiri tempat itu seperti layaknya pasar malam. Para ibu guru dari Sekolah Keutamaan Putri ditugaskan untuk melayani tamu-tamu yang datang di buffet untuk menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan. Dengan pakaian yang rapih an tindak-tanduk yang sopan serta hormat, para ibu guru berhasil memperlihatkan kecantikan lahir dan batin mereka.

Di siang hari , diadakan sebuah perlombaan olahraga di alun alun , sedangkan malam harinya diadakan pertunjukan bioskop atau wayang. Penerangan diatur sesempurna mungkin sehingga hampir tidak ada bedanya waktu siang dan malam.

Sejarah singkat Sarekat Islam - masrafli.com

Kongres Sarikat Islam yang berlangsung pada pekan itu lengkapnya dinamakan Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam. Sarikat Islam, yang didirikan pertama di Surakarta dalam tahun 1905, sangat menarik perhatian umum, sehingga dilain-lain tempat orang juga ingin mendirikan perkumpulan-perkumpulan dengan maksud dan tujuan yang sama.

Izin diberikan oleh Pemerintah Kolonial pada tahun 1912 , atau lebih tepat baru disahkan sebagai badan hukum (rechtspersoon) dalam tahun 1912. Badan hukum itu akhirnya resmi di sahkan hanya untuk Sarikat Islam setempat demi setempat atau secara lokal. Dan dua tahun setelahnya yaitu 1914 , Central Sarikat Islam disahkan sebagai badan hukum yang meliputi seluruh tanah air. Karena hal ini diadakan kongres di tahun 1916 yang telah meliputi Sarikat Islam di seluruh Hindia Belanda.

Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam ini dihadiri oleh 80 utusan dari Lokal Sarikat Islam dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi , jumlah yang cukup banyak saat itu.

Kongres tersebut terdiri dari 3 macam rapat yaitu :

  1. Rapat pendahuluan pada hari Sabtu, tanggal 17 Juni 1916 dan rapat-rapat tertutup. Rapat-rapat ini hanya dihadiri oleh anggota dari Pimpinan Pusat, atau dengan nama yang dipakai waktu itu “Centraal Bestuur”
  2. Dua rapat terbuka di alun-alun, pada hari Minggu, tanggal 18 Juni dan Senin,19 Juni 1916, dimana tiap-tiap orang dapat datang dan mendengarkan pidato-pidato yang diadakan.
  3. Enam rapat di salah satu bangsal dari Societiet Concordia, yang hanya dapat dihadiri oleh para utusan dan anggota-anggota Sarikat Islam Lokal, serta undangan dan utusan dari pergerakan sahabat dan pers.

Yang terpenting dari kongres ini untuk sejarah perkembangan politik di Indonesia adalah pidato Ketuanya Tjokroaminoto yang diucapkan pada rapat umum di alun-alun pada hari Minggu tanggal 18 Juni 1916.

Beberapa bagian dari pidato Tjokroaminoto, yang seluruhnya makan waktu dua jam, yang dikutip disini :

Semakin lama, semakin tambah kesadaran orang, baikpun di Nederland maupun di Hindia, bahwa “Pemerintahan sendiri” adalah perlu. Lebih lama lebih dirasakan, bahwa tidak patut lagi Hindia diperintah oleh Nederland, seperti tuan tanah mengurus persil-persilnya. Tidak patut lagi untuk memandang Hindia sebagai sapi perasan, yang hanya mendapat makan karena susunya; tidak pantas lagi untuk memandang negeri ini sebagai tempay untuk didatangi dengan maksud mencari untung, dan sekarang juga sudah tidak patut lagi, bahwa penduduknya, terutama putera-buminya, tidak punya hak untuk ikut bicara dalam urusan pemerintahan, yang mengatur nasibnya

Kita menyadari dan mengerti benar, bahwa mengadakan pemerintahan sendiri, adalah satu hal yang sangat sulit, dan bagi kita hal itu laksana suatu mimpi. Akan tetapi bukan impian dalam waktu tidur, tapi harapan yang tertentu, yang dapat dilaksanakan JIKA KITA BERUSAHA DENGAN SEGALA KEKUATAN YANG ADA PADA KITA, dan dengan memakai segala daya upaya melalui jalan yang benar dan menurut hukum”.

Di bawah Pemerintahan yang tiranik dan dholim, hak-hak dan kebebasan itu dicapai dengan REVOLUSI, sedang dari suatu pemerintahan yang bijaksana dengan EVOLUSI”.