Resensi Novel Dilan 1990

Resensi Novel Dilan 1990

Resensi Novel Dilan 1990

Penulis dari novel ini yaitu Pidi Baiq merupakan seorang pria kelahiran Bandung, 8 Agustus 1972. Pidi Baiq dikenal sebagai seniman yang penuh dengan karya-karya hebat dan talentanya bukan hanya dalam bidang menulis tetapi juga terkenal aktif menjadi seorang musisi dan juga pencipta lagu. Pidi Baiq juga dikenal sebagai pria yang humoris dengan pilihan katanya yang puitis.
Bisa dilihat dari perkenalan dirinya di buku novel Dilan, belau mengaku sebagai Imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh Ayah dan Ibunya.

Novel “Dilan : Dia Adalah Dilanku Tahun 1990” bercerita tentang kisah cinta dua remaja Bandung pada tahun 90an. Berawal dari seorang siswa bernama Dilan yang jatuh cinta dengan siswi pindahan dari SMA di Jakarta bernama Milea. Dilan memiliki beragam cara untuk mendekati dan mencuri perhatian Milea. Mulai dari bertingkah selayaknya seorang peramal, berpura-pura menjadi orang suruhan kantin, dan banyak lagi perhatian-perhatian kecil yang diberikan untuk melunakkan hati Milea.

Milea sendiri pada awalnya menolak untuk menerima segala perhatian dari Dilan karena memikirkan pacarnya yang ada di Jakarta. Namun, saat adanya kunjungan ke Jakarta dalam rangka mengikuti olimpiade slot online gacor di sana, pacar Milea bernama Beni menunjukkan sikap kasarnya yang diakuinya timbul akibat cemburu melihat Milea makan bersama lelaki lain, karena kejadian itulah Milea dan Beni mengakhiri hubungannya dan Milea mulai membuka hatinya untuk Dilan.

Kelebihan Novel

Isi novel memuat banyak percakapan sehingga lebih enak dan mudah untuk dibaca dan tidak berbelit-belit. Selain itu, penulis memakai bahasa yang santai dan menciptakan tawa.

Pembaca akan terbawa dengan suasana cerita yang oleh penulis digambarkan sangat menyenangkan. Apalagi cerita percintaan di masa SMA ini dikemas sangat romantis. Di dalamnya juga dibumbui dengan berbagai kejadian konyol dan lucu.

Banyak dijumpai tokoh pendamping. Hal ini menjadi menarik karena di halaman depan dipajang gambar ilustrasi dari setiap tokoh. Tampilannya juga berbeda dengan jenis novel roman seperti biasanya. Pada halaman tertentu, terdapat ilustrasi adegan.

Novel mengajarkan cara-cara untuk menjaga pasangan sehingga hubungan bisa bertahan dalam jangka waktu lama dan komunikasi berjalan lancar.

Sampul luar menarik dengan adanya gambar remaja SMA yang berdiri persis di depan motor zaman 1990 an. Gambar tersebut mengilustrasikan sosok Dilan yang merupakan anggota dari geng motor.

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

Artikel ini tentang sebuah novel yang memiliki beberapa tema yang sering terlihat dalam jenis sastra Indonesia lainnya. Subyeknya adalah kehidupan Nur Indayah, yang memulai hari-harinya di pasar di kota kelahirannya. Di usia paruh baya, Nur Indayah pindah ke bagian lain Jawa sendirian untuk menjalani Situs judi slot bet kecil hari-harinya dan meninggal di sana. Novel ini memiliki banyak kesejajaran dengan novel-novel Indonesia lainnya maupun sastra non-Indonesia lainnya. Ini terutama mengeksplorasi konsep identitas diri melalui berbagai orang dan perjalanan mereka sepanjang hidup mereka. Artikel ini berfokus pada tema identitas diri yang dirasa kurang oleh banyak orang di Indonesia dan bagaimana orang dapat menemukan dan mencapainya melalui berbagai peristiwa dalam hidup mereka.

Buku Bersejarah

Cerita Buku Bersejarah oleh Rais SUharto

“Cerita Buku Bersejarah” adalah sebuah novel yang ditulis oleh penulis Indonesia Rais Suharto (1933–2007). Bercerita tentang Nur Indayah, yang hijrah dari Aceh ke Jawa dan akhirnya ke Semarang, di seberang Jawa. Penulisnya, Rais Suharto, juga menulis novel lain tentang kehidupan Nur Indayah seperti “Cerita Buku Bersejarah: Semarang”.

Kehidupan Nur Indayah berkisar pada kehidupan pasar tradisional. Di chapter pembuka, dia terlihat berjualan di sebuah pasar di Aceh dan dia bisa menjual semua barang dagangannya. Suaminya datang untuk membeli barang dagangannya di pasar dan dia menjadi istrinya setelah dia membayar harganya. Ketika dia bertanya apa yang terjadi dengan semua uang yang dia berikan, Nur Indayah menjawab, “Saya pasti senang dengan uang itu.”

Rais Suharto merasa bahwa sudut pandang Nur Indayah sangat https://slotonline.sg-host.com/ menarik dan penting bagi pembaca Indonesia untuk memahami Nur Indayah sebagai orang normal seperti mereka. Dia terlihat sebagai wanita normal dan bukan sebagai janda atau bahkan sebagai wanita tua di usia tua. Hidupnya berputar di sekitar pasar tradisional dan fokus utama hidupnya adalah menjual barang dagangannya.

Suami Nur Indayah, Salim, pindah ke Semarang saat Nur Indayah pindah. Dia mentransfer uang istrinya dari Aceh ke Semarang dan bertanya apa yang terjadi dengan uang yang dia berikan padanya. Dia menginginkan uang itu karena dia telah meletakkannya di salah satu sepatunya dan dia menginginkannya kembali. Nur Indayah menjawab, “Hanya itu sisa uangku.