Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Kongres Sarikat Islam – Kurang lebih dalam sepekan , mulai dari tanggal 17 hingga 24 Juni 1916 , terjadi sebuah pertemuan atau yang kita kenal dengan Kongres Sarikat Islam di alun alun kota Bandung.

Panitia Kongres bertekad membuat waktu itu juga menjadi pekan untuk berpesta. Gubuk-gubuk dibangun berderet dalam garis yang rapih, dimana dipamerkan dan dijual macam-macam barang kerajinan rakyat. Tak ketinggalan juga sebuah buffet untuk menjual berbagai makanan dan minuman untuk para pengunjung kala itu. Hasil bersih dari usaha itu akan disumbangkan ke Sekolah Agama Islam yang belum berselang lama didirikan.

Kongres Sarikat Islam , Kongres Nasional Pertama Tahun 1916 Di Bandung

Para pengunjung yang terdiri dari segala lapisan masyarakat , baik lapisan atas ataupun bawah ramai membanjiri tempat itu seperti layaknya pasar malam. Para ibu guru dari Sekolah Keutamaan Putri ditugaskan untuk melayani tamu-tamu yang datang di buffet untuk menikmati makanan dan minuman yang dihidangkan. Dengan pakaian yang rapih an tindak-tanduk yang sopan serta hormat, para ibu guru berhasil memperlihatkan kecantikan lahir dan batin mereka.

Di siang hari , diadakan sebuah perlombaan olahraga di alun alun , sedangkan malam harinya diadakan pertunjukan bioskop atau wayang. Penerangan diatur sesempurna mungkin sehingga hampir tidak ada bedanya waktu siang dan malam.

Sejarah singkat Sarekat Islam - masrafli.com

Kongres Sarikat Islam yang berlangsung pada pekan itu lengkapnya dinamakan Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam. Sarikat Islam, yang didirikan pertama di Surakarta dalam tahun 1905, sangat menarik perhatian umum, sehingga dilain-lain tempat orang juga ingin mendirikan perkumpulan-perkumpulan dengan maksud dan tujuan yang sama.

Izin diberikan oleh Pemerintah Kolonial pada tahun 1912 , atau lebih tepat baru disahkan sebagai badan hukum (rechtspersoon) dalam tahun 1912. Badan hukum itu akhirnya resmi di sahkan hanya untuk Sarikat Islam setempat demi setempat atau secara lokal. Dan dua tahun setelahnya yaitu 1914 , Central Sarikat Islam disahkan sebagai badan hukum yang meliputi seluruh tanah air. Karena hal ini diadakan kongres di tahun 1916 yang telah meliputi Sarikat Islam di seluruh Hindia Belanda.

Kongres Nasional Pertama Central Sarikat Islam ini dihadiri oleh 80 utusan dari Lokal Sarikat Islam dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi , jumlah yang cukup banyak saat itu.

Kongres tersebut terdiri dari 3 macam rapat yaitu :

  1. Rapat pendahuluan pada hari Sabtu, tanggal 17 Juni 1916 dan rapat-rapat tertutup. Rapat-rapat ini hanya dihadiri oleh anggota dari Pimpinan Pusat, atau dengan nama yang dipakai waktu itu “Centraal Bestuur”
  2. Dua rapat terbuka di alun-alun, pada hari Minggu, tanggal 18 Juni dan Senin,19 Juni 1916, dimana tiap-tiap orang dapat datang dan mendengarkan pidato-pidato yang diadakan.
  3. Enam rapat di salah satu bangsal dari Societiet Concordia, yang hanya dapat dihadiri oleh para utusan dan anggota-anggota Sarikat Islam Lokal, serta undangan dan utusan dari pergerakan sahabat dan pers.

Yang terpenting dari kongres ini untuk sejarah perkembangan politik di Indonesia adalah pidato Ketuanya Tjokroaminoto yang diucapkan pada rapat umum di alun-alun pada hari Minggu tanggal 18 Juni 1916.

Beberapa bagian dari pidato Tjokroaminoto, yang seluruhnya makan waktu dua jam, yang dikutip disini :

Semakin lama, semakin tambah kesadaran orang, baikpun di Nederland maupun di Hindia, bahwa “Pemerintahan sendiri” adalah perlu. Lebih lama lebih dirasakan, bahwa tidak patut lagi Hindia diperintah oleh Nederland, seperti tuan tanah mengurus persil-persilnya. Tidak patut lagi untuk memandang Hindia sebagai sapi perasan, yang hanya mendapat makan karena susunya; tidak pantas lagi untuk memandang negeri ini sebagai tempay untuk didatangi dengan maksud mencari untung, dan sekarang juga sudah tidak patut lagi, bahwa penduduknya, terutama putera-buminya, tidak punya hak untuk ikut bicara dalam urusan pemerintahan, yang mengatur nasibnya

Kita menyadari dan mengerti benar, bahwa mengadakan pemerintahan sendiri, adalah satu hal yang sangat sulit, dan bagi kita hal itu laksana suatu mimpi. Akan tetapi bukan impian dalam waktu tidur, tapi harapan yang tertentu, yang dapat dilaksanakan JIKA KITA BERUSAHA DENGAN SEGALA KEKUATAN YANG ADA PADA KITA, dan dengan memakai segala daya upaya melalui jalan yang benar dan menurut hukum”.

Di bawah Pemerintahan yang tiranik dan dholim, hak-hak dan kebebasan itu dicapai dengan REVOLUSI, sedang dari suatu pemerintahan yang bijaksana dengan EVOLUSI”.